Selasa, 12 Desember 2017

Imunisasi



A.      Pengertian Imunisasi
Imunisasi menurut (Depkes RI, 2005) adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau sakit ringan.

B.      Tujuan Imunisasi
Tujuan pemberian imunisasi adalah menurunkan angka kesakitan, kematian serta kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)

C.      Sasaran Imunisasi
Tahukah anda siapa saja yang menjadi sasaran imunisasi? Berikut adalah yang menjadi sasaran dalam imunisasi :

1.              Bayi
2.               
Jenis Imunisasi
Usia Pemberian
Jumlah Pemberian
Interval Minimal
Hepatitis B
0-7 hari
1
-
BCG
1 bulan
1
-
POLIO/IPV
1,2,3,4 bulan
4
-
DPT – Hb – Hib
2,3,4 bulan
3
4 minggu
Campak
9 bulan
1
4 minggu

 2.      Anak batita ( usia dibawah 3 tahun )

Jenis Imunisasi
Usia Pemberian
Jumlah pemberian
DPT-Hb-Hib
18 bulan
1
Campak
24 bulan
1

2.       
3. Anak Sekolah Dasar kelas 1 (sederajat)

Jenis Imunisasi
Usia Pemberian
Jumlah pemberian
Campak
18 bulan
1
DT
24 bulan
1

4.  Anak sekolah dasar kelas 2 dan 3 ( sederajat )

Jenis Imunisasi
Usia Pemberian
Jumlah pemberian
TD
Bulan Novembar
BIAS
  

A.     Jenis Imunisasi
1.      Imunisasi wajib
Imunisasi wajib merupakan imunisasi yang diwajibkan oleh pemerintah untuk setiap orang yang sesuai dengan kebutuhannya agar melindungi mereka yang bersangkutan dan sekitarnya dari penyakit menular tertentu.
Imunisasi wajib terdiri dari :
a.      Imunisasi Rutin
Imunisasi rutin adalah imunisasi yang dilakuakn secara terus menerus sesuai jadwal yang sudah ditentukan. Berikut ini adalah jenis vaksin imunisasi rutin :
1)      Vaksin BCG
Vaksin BCG merupakan vaksin beku kering yang mengandung mycrobacterium bovis hidup yang dilemahkan (Bacillus Calmette Guerin)
·         Indikasi : untuk pemberian kekebalan aktif terhadap Tubercolosis
·         Cara pemberian :
a)       dosis 0,05 ml, sebanyak 1 kali
b)       disuntikan di daerah lengan kanan atas ( insertio musculus deltoideus ) secara intrakutan
c)       menggunakan ADS 

.   efek samping :
a)    2-6 minggu setelah imunisasi BCG daerah bekas suntikan timbul bisul kecil (papula) yang semakin besar dan dapat terjadi dalam waktu 2-4 bulan, dan perlahan sembuh dengan menimbulkan jaringan parut dengan diameter 2-10 mm.
Apabila ulkus mengeluarkan cairan perlu dikopres dengan cairan antiseptik, dan apabila cairan bertambah banyak atau koreng anjurkan untuk membawa bayi ke dokter
2)      Vaksin DPT-HB-HIB
Vaksin ini digunakan untuk pencegahan terhadap difteri,tetanus, pertusis ( batuk rejan ), hepatitis B, dan infeksi haemophilus influenza tipe b secara simultan.
·           Kontra Indikasi : kejang atau gejala kelainan otak pada bayi baru lahir atau kelainan saraf serius
·           Cara pemberian :
b)      Vaksin disuntikan secara intramuskular pada anterolateral paha atas.
c)      Dosis yang diberikan adalah 0,05 ml
·           Efek samping :
a)      Reaksi lokal sementara seperti bangkak, nyeri dan kemerahan pada lokasi suntikan disertai demam. Kadang reaksi berat seperti demam tinggi, rewel, dan menangis dengan nada tinggi dapat terjadi dalam 24 jam setelah pemberian.
3)      Vaksin Hepatitis B
Vaksin ini adalah vaksin virus recombinan yang telah diinaktivasikan dan bersifat non infecious, berasal dari HbsAg.
·           Kontra indikasi: Penderita infeksi berat yang disertai kejang.
·           Efek Samping: Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari.
4)      Vaksin Polio
1.      Vaksin Polio Oral ( Oral Polio Vaccine (OPV)
Vaksin Polio Trivalent yang terdiri dari suspensi viruspoliomyelitis tipe 1,2, dan 3 (strain Sabin) yang sudah dilemahkan.
·         Indikasi: Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap poliomielitis
·         Cara pemberian dan dosis: Secara oral atau melalui mulut, 1 dosis (dua tetes) sebanyak 4 kali (dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu. 
·         Kontra indikasi: Pada individu yang menderita “immune deficiency” tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit. 
·         Efek Samping: Setelah mendapat vaksin polio oral bayi boleh makan minum seperti biasa. Apabila muntah dalam 30 menit segera diberi dosis ulang. 
·         Penanganan efek samping: Orang tua tidak perlu melakukan tindakan apapun
2.      Vaksin PolioInactive Polio Vaccine (IPV)
Bentuk suspensi injeksi.
·      Indikasi: Untuk pencegahan poliomyelitis pada bayi dan anak
immunocompromised, kontak dilingkungan keluarga dan pada individu dimana vaksin polio oral menjadi kontra indikasi. 
·      Cara pemberian dan dosis:
b)   Disuntikkan secara intra muskular atau subkutan dalam, dosis pemberian 0,5 ml.
c)    Dari usia 2 bulan, 3 suntikan berturut-turut 0,5 ml harus diberikan pada interval satu atau dua bulan.
d)   IPV dapat diberikan setelah usia bayi 6, 10, dan 14, sesuai dengan rekomendasi dari WHO.
e)   Bagi orang dewasa yang belum di imunisasi diberikan 2 suntikan berturut-turut dengan interval satu atau dua bulan. 
·      Kontra indikasi:
a)   Sedang menderita demam, penyakit akut atau penyakit kronis progresif.
b)   Hipersensitif pada saat pemberian vaksin ini sebelumnya.
c)    Penyakit demam akibat infeksi akut: tunggu sampai sembuh.
d)   Alergi terhadap Streptomycin. 

·         Efek samping:
a)   Reaksi lokal pada tempat penyuntikan: nyeri, kemerahan, indurasi dan bengkak bisa terjadi dalam waktu 48 jam setelah penyuntikan dan bisa bertahan selama satu atau dua hari.
·           Penanganan efek samping:
a) Orangtua dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau sari buah).
b)   Jika demam berikan pakaian yang tipis.
c)    Bekas suntikan yang nyeri bisa dikompres dengan air dingin.
d)   Jika demam berikan paracetamol 15 mg/kg BB setiap 3–4 jam (maksimal 6 kali dalam 24 jam)
e)   Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.

5)      Vaksin Campak
Vaksin virus hidup yang dilemahkan.
·           Indikasi: Pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak
·           Cara pemberian dan dosis: 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas atau anterolateral paha, pada usia 9–11 bulan. 
·           Kontra indikasi: Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, limfoma. 
·           Efek samping: Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapatterjadi 8–12 hari setelah vaksinasi. 
·           Penanganan efek samping:
a)   Orangtua dianjurkan untuk memberikan minum lebih banyak (ASI atau sari buah).
b)   Jika demam pakaikan pakaian yang tipis.
c)    Bekas suntikan yang nyeri dapat dikompres air dingin.
d)   demam berikan paracetamol 15 mg/kgBB setiap 3–4 jam (maksimal 6 kali dalam 24 jam).
e)   Bayi boleh mandi atau cukup diseka dengan air hangat.
f)     Jika reaksi tersebut berat dan menetap bawa bayi ke dokter.

b.      Imunisasi Lanjutan 
Imunisasi lanjutan adalah imunisasi ulangan untuk mempertahankan tingkat kekebalan atau untuk memperpanjang masa perlindungan. Imunisasi lanjutan diberikan kepada anak usia bawah tiga tahun (Batita), anak usia sekolah dasar, dan wanita usia subur. Vaksin yang diberikan adalah: vaksin DT, vaksin TD.
c.       Imunisasi Tambahan 
Imunisasi tambahan diberikan kepada kelompok umur tertentu yang paling berisiko terkena penyakit sesuai kajian epidemiologis pada periode waktu tertentu.
2.      Imunisasi Pilihan
Macam- macam vaksin imunisasi pilihan yaitu ; vaksin MMR, Hib,Tifoid,Varisela, Hepatitis A, Influensa, Pneumokokus, Rotavirus, Japanese Ensephalitis dan  HPV.

daftar pustaka :
Kementerian Kesehatan RI. 2013. Modul pelatihan Imuniasi bagi Petugas Puskesmas.Jakarta: Direktorat 
Simkar dan Kesma, Ditjen PP dan PL. 

Kementerian Kesehatan RI. 2015. Buku Ajar Imunisasi, Cetakan II. Jakarta: Pusdiklatnakes. 

      Satgas imunisasi IDAI. 2005. Jakarta: Pedoman Imunisasn


Senin, 11 Desember 2017

Pemantauan Tumbuh Kembang Bayi Balita dan Anak Pra Sekolah


A.      Pengertian Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
Deteksi dini perumbuhan dan perkembangan anak adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak pra sekolah. ( Kemenkes R.I, 2012 )
1.       Jenis Deteksi Dini Pertumbuhan Dan Perkembangan
Ada 3 jenis deteksi dini yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan ditingkat puskesmas dan jaringannya.
1)      Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, untuk mengetahui atau menemukan status gizi kurang atau buruk dan mikro atau makrosefali. Jenis yang digunakan adalah
a.       Berat badan terhadap tinggi badan anak ( BB/TB )
Berat badan merupakan salah satu pengukuran antopometri yang terpenting untuk mengetahui keadaan status gizi anak dan memeriksa kesehatan anak misalnya apakah anak dalam keadaan normal dan sehat. Cara pengukurunnya mudah, sederhana dan murah. Kegunaan BB adalah sebagai informasi tentang keadaan gizi anak, pertumbuhan dan kesehatannya, sebagai monitoring kesehatan sehingga dapat menentukan terapi apa yang sesuai dengan kondisi anak, sebagai dasar untuk menentukan dasar perhitungan dosis obat ataupun diet yang diperlukan untuk anak.

Pada usia beberapa hari, berat badan akan mengalami penurunan yang sifatnya normal yaitu sekitar 10% dari berat lahir. Hal tersebut disebabkan keluarnya mekonium dan air seni yang belum diimbangi degan asupan yang adekuat, misalnya, Produk ASI belum lancar. Namun pada umumnya, berat badan akan kembali mencapi berat lahir pada hari kesepuluh.

Berikut ini adalah kenaikan berat badan normal pada bayi sehat :


Triwulan I
700-1000 g/bln
Triwulan II
500-600 g/bln
Triwulan III
350 – 450 g/bln
Triwulan IV
250 – 350 g/bln


Dari perkiraan tersebut dapat kita simpulkan bahwa pada 6 bulan pertama berat badan akan bertambah sekitar 1 kg/bln, enam bulan berikutnya kurang lebih 0,5 kg/bln. Pada tahun kedua kenaikan kurang lebih 0,25 kg/bln setelah dua tahun kenaikan badan tidak tentu, sekitar 2 – 3kg/tahun. Pada tahap remaja akan terjadi pertumbuhan yang sangat cepat. Selain dengan perkiraan tersebut, dapat juga diperkirakan dengan rumus atau pedoman dari Behrman (1992) sebagai berikut :
a)      Berat badan lahir rata-rata: 3,25 kg
b)      Berat badan usia3-12 bulan menguunakan rumus :
                                            umur (bulan) + 9 = n+9             
                                                                 2
 c) berat badan usia 1-6 tahun menggunakan rumus
                         (umur(tahun)x2) + 8 = 2n + 8

Keterangan : n adalah usia anak

Untuk menentukan umur anak dalam bulan, bila lebih 15 hari dibulatkan keatas. Sedangkan, kurang atau sama 15 hari dihilangkan. Misalnya, ada bayi beumur 4 bulan 25 hari maka bayi dianggap 5 bulan berat baan bayi.
b.      Tinggi Badan
                         Tinggi badan untuk anak kurang dari 2 tahun biasa disebut panjang badan. Pada BBL panjang badan rata-rata +50 cm. Pada tahun pertama bertambah 1,25 cm/bln ( 1,5 x panjang badan lahir ). Penambahan tersebut berangsur-angsur berkurang sampai usia 9 tahun yaitu hanya sekitar 5 cm/tahun. Baru pada masa pubertas peningkatan pertumbuhan tinggi badan cukup cepat, yaitu pada wanita 5-25 cm/tahun, pada laki-laki 10-30 cm/tahun. Perubahan tinggi badan akan berhenti pada usia 18-20 tahun.

Tinggi badan juga dapat diperkirakan berdasarkan rumus Behrman (1992), sebagai berikut:
a)      Perkiraan panjang lahir 50 cm
b)      Perkiraan panjang badan usia 1 tahun = 1,5 x panjang badan lahir
c)       Perkiraan tinggi badan usia 2-12 tahun (umur x 6) + 77 = 6n + 77

Keterangan : n adalah usia anak dalam tahun, bila usia lebih enam bulan maka dibulatkan ke atas, bila enam bulan atau kurang maka dihilangkan.

Atau jika berdasarkan potensi genetik TB akhir :
                       
                            a.    Wanita = ( TB ayah – 13 cm) + TB Ibu  ±8,5 cm) 
                                                                        2              
                                                                                                                                                                                                b.    Pria      = ( TB ibu – 13 cm) +  TB ayah  ±8,5 cm)
                                                                        2  
                                               
c.     Pengukuran Lingkar Kepala Anak ( LKA )
                Pengukuran lingkar kepala anak bertujuan untuk menaksir pertumbuhan otak. Berat otak janin saat kehamilan usia 20 minggu diperkirakan 100 gr, waktu lahir sekitar 350 gram, pada usia 1 tahun hampir mencapai 3 kali lipat yaitu 925 gram atau mencapi 75% dari berat seluruhnya. Pada usia 3 tahun sekitar 1100 gr dan pada 6 tahun pertumbuhan otak telah mencapai 90% ( 1260 gr). Pada usia dewasa, berat otak mencapai 1400 gr.
                Ukuran lingkar kepala normalnya 34-35 cm. Kemudian bertambah kurang lebih 0,5 cm/bulan pada bulan pertama. Pada 6 bulan pertama,pertumbuhan kepala paling cepat, kemudian pada tahun-tahun pertama lingkar kepala tidak lebih dari 5 cm/tahun. Pada dua tahun pertama pertumbuhan otak relatif pesat, dan sampai 18 tahun lingkar kepala hanya bertambah kurang lebih 10 cm.
                Jadwal pengukuran disesuaikan dengan umur anak. Umur 0-11 bulan, pengukuran dilakukan setiap bulan. Pada anak yang lebih besar, umur 12-72 bulan, pengukuran dilakukan setiap 6 bulan. Pengukuran dan penilaian dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlatih.
2.       Deteksi Penyimpangan Perkembangan
    Deteksi penyimpangan perkembangan digunakan untuk mengetahui gangguan perkembangan anak, gangguan daya lihat dan gangguan daya dengar.

Jenis instrumen yang digunakan unuk melakukan deteksi penyimpangan perkembangan adalah :
a.       Kuesioner Pra Skrinning Perkembangan ( KPSP )
        Merupakan skrining awal untuk menilai perkembangan anak usia 0-72 bulan. Alat yang digunakan untuk pemeriksaan adalah formulir KPSP sesuai umur dan alat untuk pemeriksaan yang berupa pensil, kertas, bola sebesar bola tennis, kerincingan, kubur ukuran 2,5cm sebanyak 8 buah, kismis, kacang tanah, dan biscuit. Usia ditetapkan menurut tahun dan bulan. Kelebihan 16 hari diblatkan menjadi 1 bulan.

Cara menggunakan KPSP:
a) Pada waktu pemeriksaan anak harus dibawa
b) Tentukan dahulu umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan dan tahun anak lahir.
c) Setelah itu pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak.
d) Daftar pertanyaan KPSP berjumlah sepuluh nomor yang dibagi menjadi dua, yang pertama pertanyaan yang harus dijawab oleh orangtua/pengasuh dan yang kedua perintah yang harus dilakukan sesuai dengan pertanyaan KPSP. 
e) Jelaskan kepada orang tua agar tidak ragu-ragu atau takut menjawab. Pastikan orang tua/pengasuh mengerti apa yang ditanyakan kepadanya.
f) Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan, satu persatu. Setiap pertanyaan hanya ada 1 jawaban Ya atau Tidak. Catat jawaban tersebut pada formulir.
g) Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah orangtua/pengasuh menjawab pertanyaan sebelumnya.
h) Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab. 

Interprestasi hasil pemeriksan KPSP adalah sebagai berikut:
a. Bila jawaban “ya” berjumlah 9-10 berarti  perkembangan anak normal sesuai dengan tahapan perkembangan 
b. Bila jawaban  ‘ya” kurang dari 9, maka perlu diteliti tentang:
        1) Cara menghitung usia dan kelompok pertanyaannya apakah sudah sesuai
2) Kesesuaian jawaban orangtua dengan maksud pertanyaan Apabila ada kesalahan , maka pemeriksan harus diulang
c. Bila setelah diteliti jawaban “ya” berjumlah 7- 8, berarti  perkembangan anak meragukan dan perlu pemeriksan ulang 2 minggu kemudian dengan pertanyaan yang sama.  Jika jawaban tetap sama maka kemungkinan ada penyimpangan.
d. Bila jawaban berjumlah “ya” berjumlah 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan dan anak perlu dirujuk ke rumah sakit untuk memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

b.      Test Daya Lihat ( TDL )
        Test ini dilakukan untuk menilai ketajaman pengelihatan anak serta kelainan pada anak berusia 3-6 tahun yang dilakukan setiap 6 bulan.

Cara melakukan tes daya lihat:
a) Pilih  ruangan dengan penyinaran yang baik, bersih, tenang  
b) Gantungkan  ’kartu E’ yang  setinggi mata anak posisi  duduk. 
c) Letakkan sebuah kursi sejauh 3 meter dari kartu “E” untuk duduk anak.
d) Letakkan sebuah kursi lainnya di samping poster “E” untuk pemeriksa
e) Pemeriksa memberikan kartu “E” kepada anak. Latih anak dalam mengarahkan kartu ‘E’ menghadap ke atas, bawah, kiri dan kanan sesuai yang ditunjuk pada poster “E”oleh pemeriksa.
f) Dengan alat penunjuk, tunjuk huruf “E” pada poster, satu persatu mulai  baris pertama huruf “E “berukuran paling besar sampai  baris keempat atau baris ”E” terkecil yang masih dapat dilihat. 
g) Puji anak jika bisa mencocokan posisi kartu “E” yang dipegangnya dengan huruf pada kartu “E” pada poster.
h) Ulangi pemeriksaan tersebut pada mata satunya dengan cara yang sama. 

Interpretasi hasil pemeriksaan daya lihat:
        Secara normal anak dapat melihat huruf E pada baris ketiga. Apabila pada baris ketiga, anak tidak dapat melihat maka perlu dirujuk untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.Selain tes daya lihat, anak juga perlu diperiksakan kesehatan matanya. Perlu ditanyakan dan diperiksa adakah hal sebagai berikut :
a) keluhan seperti mata gatal, panas, penglihatan kabur atau pusing
b) perilaku seperti sering menggosok mata, membaca terlalu dekat, sering
mengkedipkedipkan mata
c) kelainan mata seperti bercak bitot, juling, mata merah dan keluar air 

        Apabila ditemukan satu kelainan atau lebih pada mata anak, minta anak datang lagi untuk pemeriksaan ulang dan jika hasil pemeriksaan anak tidak dapat melihat sampai baris yang sama maka anak tersebut perlu  dirujuk ke rumah sakit dengan menuliskan mata yang mengalami gangguan ( kanan, kiri atau keduanya). 

c.       Test Daya Dengar ( TDD )
        Tujuan TDD adalah untuk menemukan gangguan pendengaran secara dini, agar dapat segera ditindak lanjuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak.
        TDD dapat dilakukan setiap 3 bulan pada bayi usia < 12 bulan dan setiap 6 bulan pada anak  oleh tenaga kesehatan, guru TK/PAUD terlatih. Peralatan yang diperlukan adalah instrumen untuk TDD sesuai usia anak, gambar binatang (ayam, anjing, kucing), manusia dan mainan(boneka, kubus, sendok, cangkir dan bola).

d.      Denver Developmenttal Scining Test ( DDST )
        DDST merupakan salah satu media skrinning pada kelainan perkembangan anak usia 1 bulan sampai 6 tahun. Perkembangan yang dinilai diantaranya perkembangan personal sosial, motorik halus, bahasa dan motorik kasar.

        Peralatan yang diperlukan adalah:
1) Meja tulis dengan kursinya, dan matras
2) Perlengkapan test :
        o Gulungan benang wool-merah (diameter 10 cm) 
        o Kismis 
        o Kerincingan dengan gagang yang kecil 
        o 10 buah kubus berwarna, 2,5 x 2,5 cm    
        o Botol kaca kecil dengan diameter lubang 1,5 cm
        o Bel kecil
        o Bola tenis
        o Pensil merah
        o Boneka kecil dengan botol susu
        o Cangkir plastik dengan gagang/ pegangan
        o Kertas kosong

Langkah Mengambil Kesimpulan
1)      Normal : Jika Tidak ada keterlambatan/minimal paling banyak 1 caution dan lakukan ulangan pada kontrol berikutnya
2) Suspect/suspekjika : Ada ≥ 2 caution dan atau ≥ 1 keterlambatan
Maka Lakukan uji ulang dalam 1 - 2 minggu
3) Untestable/tidak dapat diuji : Ada skor menolak pada ≥ 1 ujicoba di sebelah kiri garis umur maka uji ulang 1 - 2 minggu
4) Abnormal  :Bila didapatkan 2 atau lebih keterlambatan pada 2 sektor atau lebih, bila dalam 1 sektor didapatkan 2 atau lebih keterlambatan ditambah 1 sektor atau lebih dengan 1 keterlambatan dan pada sektor tersebut, tidak ada yang lulus pada kotak yang terpotong garis usia .


sumber :
Kemenkes RI. 2012. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta.
Kemenkes RI. 2015. Buku Ajar Kesehatan Ibu dana Anak.Jakarta: Pusdikaltnakes. 
Soetjiningsih. 2002. Tumbuh Kembang Anak Bab Penilaian Pertumbuhan dan Perkembangan. FK UniversitasUdayana. Bali: EGC.



ASUHAN KEBIDANAN BAYI BARU LAHIR 2 JAM

Nama Ibu            : Ny. M Nama Ayah         : Tn. H Nama Bayi          : Bayi Ny. M Usia                     : 2 Jam Jam Lahir  ...